Sejarah Lahirnya Filsafat
2
1. Masa
Yunani
Yunani
terletak di Asia Kecil. Kehidupan penduduknya sebagai nelayan dan pedagang,
sebab sebagian besar penduduknya tinggal di daerah pantai, sehingga mereka
dapat menguasai jalur perdagangan di Laut Tengah.
Kebiasaan
mereka hidup di alam bebas sebagai nelayan itulah mewarnai kepercayaan yang
dianutnya, yaitu berdasarkan kekuatan alam, sehingga beranggapan bahwa hubungan
manusia dengan Sang Maha Pencipta bersifat formalitas. Artinya kedudukan Tuhan
terpisah dengan kehidupan manusia.
Kepercayaan
yang bersifat formalitas (Natural
Religion) tidak memberikan kebebasan kepada manusia, ini ditentang oleh
Homerus dengan dua buah karyanya yang terkenal, yaitu Ilias dan Odyseus. Kedua
karya Homerus itu memuat nilai-nilai yang tinggi dan bersifat edukatif.
Sedemikian besar peranan karya Homerus, sama kedudukannya seperti wayang purwa
di Jawa. Akibatnya masyarakat lebih kritis dan rasional.
Pada
abad ke-6 SM, bermunculan para pemikir yang berkepercayaan sangat bersifat
rasional (Cultural Religion)
menimbulkan pergeseran. Tuhan tidak lagi terpisah dengan manusia, melainkan
justru menyatu dengan kehidupan manusia. Sistem kepercayaan yang natural
religius berubah menjadi sistem cultural religius.
Dalam
sistem kepercayaan natural religius ini manusia terikat oleh tradisionalisme.
Sedangkan dalam sistem kepercayaan kultural religius ini memungkinkan manusia
mengembangkan potensi dan budayanya dengan bebas, sekaligus dapat mengembangkan
pemikirannya untuk menghadapai dan memecahkan berbagai kehidupan alam dengan
akal pikiran.
Ahli
pikir pertama kali yang muncul adalah Thales (625 – 545 SM) yang berhasil
mengembangkan geometri dan matematika. Likipos dan Democritos mengembangkan
teori materi, Hipocrates mengembangkan ilmu kedokteran, Euclid mengembangkan
geometri edukatif, Socrates mengembangkan teori tentang moral, Plato
mengembangkan teori tentang ide, Aristoteles mengembang teori tentang dunia dan
benda serta berhasil mengumpulkan data 500 jenis binatang (ilmu biologi). Suatu
keberhasilan yang luar biasa dari Aristoteles adalah menemukan sistem
pengaturan pemikiran (logika formal) yang sampai sekarang masih terkenal.
Para
ahli pikir Yunani Kuno ini mencoba membuat konsep tentang asal mula alam.
Walaupun sebelumnya sudah ada tentang konsep tersebut. Akan tetapi konsepnya
bersifat mitos yaitu mite kosmogonis (tentang asal usul alam semesta) dan mite
kosmologis (tentang asal-usul serta sifat kejadian-kejadia dalam alam semesta),
sehingga konsep mereka sebagai mencari asche (asal mula) alam semesta, dan
mereka disebutnya sebagai filosof alam.
Oleh
karena arah pemikiran filsafatnya pada alam semesta maka corak pemikirannya
kosmosentris. Sedangkan para ahli pikir seperti Socrates, Plato dan Aristoteles
yang hidup pada masa Yunani Klasik karena arah pemikirannya pada manusia maka
corak pemikiran filsafatnya antroposentris. Hal ini disebabkan, arah pemikiran
para ahli pikir Yunani Klasik tersebut memasukkan manusia sebagai subyek yang
harus bertanggung jawab terhadap segala tindakannya.
2. Masa
Abad Pertengahan
Masa
ini diawali dengan lahirnya filsafat Eropa. Sebagaimana halnya dengan filsafat
Yunani yang dipengaruhi oleh kepercayaan, maka filsafat atau pemikiran pada
abad pertengahan pun dipengaruhi oleh kepercayaan Kristen. Artinya, pemikiran
filsafat abad pertengahan didominasi oelh agama. Pemecahan semua persoalan
selalu didasarkan atas dogma agama, sehingga corak pemikiran kefilsafatannya
bersifat teosentris.
Baru
pada abad ke-6 Masehi, setelah mendapatkan dukungan dari Karel Agung, maka
didirikanlah sekolah-sekolah yang memberi pelajaran gramatika, dialektika,
geometri, aritmatika, astronomi dan musik. Keadaan yang demikan akan mendorong
perkembangan pemikiran filsafat pada abad ke-13 yang ditandai berdirinya
universitas-universitas dan ordo-ordo. Dalam ordo inilah mereka mengabdikan
dirinya untuk kemajuan ilmu dan agama, seperti Anselmus (1033 – 1109),
Abaelardus (1079 – 1143), Thomas Aquinas (1225 – 1274).
Di
kalangan para ahli pikir Islam (periode filsafat Skolastik Islam) muncul
al-Kindi, al-Farabi, Ibnu Sina, al-Ghazali, Ibnu Bajah, Ibnu Tufail, Ibnu
Rusyd. Periode skolastik Islam ini berlangsung tahun 850 – 1200. pada masa
itulah kejayaan Islam berlangsung dan ilmu pengetahuan berkembang dengan pesat.
Akan tetapisetelah jatuhnya kerajaan Islam di Granada di Spanyol tahun 1492
mulailah kekuasaan politik Barat menjarah ke Timur. Suatu prestasi yang paling
besar dalam kegiatan ilmu pengetahuan terutama dalam bidang filsafat. Di sini
mereka merupakan mata rantai yang mentransfer filsafat Yunani, sebagaimana yang
dilakukan oleh sarjana-sarjana Islam di Timur terhadap Eropa dengan menambah
pikiran-pikiran Islam sendiri. Para filosof Islam sendiri sebagian menganggap
bahwa filsafat Aristoteles adalah benar, Plato dan Al-Qur’an adalah benar,
mereka mengadakan perpaduan dan sinkretisme antara agama dan filsafat. Kemudian
pikiran-pikiran ini masuk ke Eropa yang merupan sumbangan Islam yang paling
besar, yang besar pengaruhnya terhadap ilmu pengetahuan dan pemikiran filsafat
terutama dalam bidang teologi dan ilmu pengetahuan alam. Peralihan dari abad
pertengahan ke abad modern dalam sejarah filsafat disebut sebagai masa
peralihan (masa transisi), yaitu munculnya Renaissance dan Humanisme yang
berlangsung pada abad 15-16. munculnya Renaisance dan Humanisme inilah yang
mengawali masa abad modern. Mulai zaman modern inilah peranan ilmu alam kodrat
sangat menonjol, sehingga akibatnya pemikiran filsafata semakin dianggap
sebagai pelayan dari teologi, yaitu sebagai suatu sarana untuk menetapkan
kebenaran-kebenaran mengenai Tuhan yang dapat dicapai oleh akal manusia.
3. Masa
Abad Modern
Pada
masa abad modern ini pemikiran filsafat berhasil menempatkan manusia pada
tempat yang sentral dalam pandangan kehidupan, sehingga corak pemikirannnya
antroposentris, yaitu pemikiran filsafatnya mendasarkan pada akal fikir dan
pengalaman.
Di
atas telah dikemukakan bahwa munculnya Renaisance dan Humanisme sebagai awal
masa abad modern. Di mana para ahli (filosof) menjadi pelopor perkembangan
filsafat (kalau pada abad pertengahan yang menjadi pelopor perkembangan
filsafat adalah para pemuka agama). Dan pemikiran filsafat masa abad modern ini
berusaha meletakkan dasar-dasar bagi metode logis ilmiah. Pemikiran filsafat
diupayakan lebih bersifat praktis, artinya pemikiran filsafat diarahkan pada
upaya manusia agar dapat mengasai lingkungan alam dengan menggunakan berbagai
penemuan ilmiah.
Karena
semakin pesatnya orang menggunakan metode induksi/ eksperimental dalam berbagai
penelitian ilmiah, akibatnya perkembangan pemikiran filsafat mulai tertinggal
oleh perkembangan ilmu-ilmu alam kodrat (Natural
Sciences). Rene Descartes (1596 – 1650) sebagai bapak filsafat modern yang
berhasil melahirkan suatu konsep dari perpaduan antara metode ilmu alam dengan
ilmu pasti ke dalam pemikiran filsafat. Upaya ini dimaksudkan, agar kebenaran
dan kenyataan filsafat juga sebagai kebenaran dan kenyataan yang jelas dan
terang.
Pada
abad ke-18, perkembangan pemikiran filsafat mengarah kepada filsafat ilmu
pengetahuan, di mana pemikiran filsafat diisi dengan upaya manusia, bagaimana
cara atau sarana apa yang dipakai untuk mencari kebenaran dan kenyataan.
Sebagai tokohnya George Berkeley (1685 – 1753), David Hume (1711 – 1776),
Rousseau (1722 – 1778).
Di
Jerman muncul Christian Wolft (1679 – 1754) dan Immanuel Kant (1724 – 1804),
yang mengupayakan agar filsafat menjadi ilmu pengethuan yang pasti dan berguna,
yaitu dengan cara membentuk pengertian-pengertian yang jelas dan bukti yang
kuat.
Abad
ke-19, perkembangan pemikiran filsafat terpecah belah. Pemikiran filsafat pada
saat itu telah mampu membentuk suatu kepribadian tiap-tiap bangsa dengan
pengertian dan caranya sendiri. Ada filsafat Amerika, filsafat Perancis,
filsafat Inggris, filasafat Jerman. Tokoh-tokohnya adalah Hegel (1770-18311),
Karl Marx (1818 -1883), August Comte (1798 -1857), JS. Mill (1806 – 1873), John
Dewey (1858 – 1952).
Akhirnya
dengan munculnya pemikiran filsafat yang bermacam-macam ini, berakibat tidak
terdapat lagi pemikiran filsafat yang mendominasi. Giliran selanjutnya lahirlah
filsafat kontemporer atau filsafat dewasa ini.
4. Masa
Abad Dewasa Ini
Filsafat
dewasa ini atau filsafat abad ke-20 juga disebut Filsafat Kontemporer yang
merupakan ciri khas pemikiran filsafat adalah desentralisasi manusia. Karena
pemikiran filsafat abad ke-20 ini memberikan perhatian yang khusus kepada
bidang bahasa dan etika sosial.
Dalam
bidang bahasa terdapat pokok-pokok masalah; arti kata-kata dan arti
pernyataan-pernyataan. Masalah ini muncul karena bahwa realitas sekarang ini
banyak bermunculan berbagai istilah, di mana cara pemakainnnya sering tidak
dipikirkan secara mendalam, sehingga menimbulkan tafsir yang berbeda-beda
(bermakna ganda). Maka timbullah filsafat analitika, yang di dalamnya membahas
tentang cara berfikir untuk mengatur pemakaian kata-kata/ istilah-istilah yang
menimbulkan kerancauan, dan sekaligus dapat menunjukkan bahaya-bahaya yang
terdapat di dalamnya. Oleh karena bahasa sebagai obyek terpenting dalam
pemikiran filsafat, maka para ahli pikir menyebut sebagai logosentris.
Dalam bidang etika
sosial memuat pokok-pokok masalah apakah yang hendak kita perbuat di dalam
masyarakat dewasa ini. Kemudian,
pada paruh pertama abad ke-20 ini timbul aliran-aliran kefilsafatan seperti
Neo-Thomisme, Neo-Kantianisme, Neo-Hegelianisme, Kritika Ilmu, Historisme, Irasionalisme,
Neo-Vitalisme, Spiritualisme, Neo-Positivisme. Aliran-aliran di atas sampai
sekarang tinggal sedikit yang masih bertahan. Sedangkan pada awal belahan akhir
abad ke-20 muncul aliran kefilsafatan yang lebih dapat memberikan corak
pemikiran dewasa ini seperti Filsafat Analitik, Filsafat Eksistensi,
Strukturalisme, Kritika Sosial.
By : Unknown
Sejarah Munculnya Filsafat Islam
1
Berbagai teori telah dikemukakan mengenai
asal mula filsafat Islam oleh orang orang-orang yang tahu maupun sebaliknya,
atau bahkan menganggap tidak perlu mempelajari sumber aslinya. Satu diantara
teori-teori tersebut menyatakan bahwa filsafat Islam lahir berkat masuknya
pemikiran Yunani kedalam pemikiran Arab. Dikatakan hanya melalui melalui
penerjemahan buku-buku ilmu pengetahuan yang berbahasa Yunani kedalam bahasa
Arablah kaum muslimin dirangsang dan dipaksa untuk berpikir, oleh karena banyak
ajaran dan kepercayaan yang sampai kepada bangsa Arab melalui karya-karya itu
yang bertentangan dengan dasar-dasar agama Islam. Tidak dapat disangkal bahwa
ajaran yang dianut oleh Plato dan muridnya Aristoteles bertentangan dengan
al-Qur’an dan tidak dapat diterima oleh umat Islam.
kemudian muncul sebuah asumsi bahwa
filsafat Islam tidak akan lahir jika pemikiran-pemikiran Yunani tidak masuk ke
negeri-negeri Islam dengan ajaran-ajarannya yang berbeda dengan Islam adalah
tidak benar adanya, padahal sumber inspirasi yang sesungguhnya dan asli bagi
pemikir dan intelektual Islam adalah al-Qur’an dan Hadis.
Sementara itu pemikiran Yunani telah
memberikan motivasi kepada sumber inspirasi tersebut, tidak dapat dielakkan
lagi bahwa filsafat Islam berhutang budi kepada pemikiran Yunani, akan tetapi
masih ada saja ditemukan perbedaan yang signifikan antara pemikir muslim dan
pemikir Yunani mengenai Tuhan, manusia, dan alam semesta.
Disisi lain para pemikir dan intelektual
Islampun memasukkan masalah-masalah baru ke dalam filsafat yang asing bagi
bangsa Yunani, Misalnya para filusuf muslim menekankan wahyu sebagai salah satu
sumber pengetahuan dan membahas sifat kesadaran nubuat, mereka juga memberikan
perhatian yang besar kepada soal kehidupan di akhirat, serta pembuatan
perhitungan hari kiamat dan pembenarannya menurut ajaran al-Qur’an, selain itu
mengenai masalah penciptaan, kebaikan dan kejahatan, kebebasan kehendak dan
determenisme dibahas oleh para pemikir muslim dalam kaitannya dengan agama dan
kebudayaan mereka. Mereka juga berusaha mendamaikan filsafat dan agama berusaha
menunjukkan bahwa tidak ada pertentangan antara keduannya.
Oleh sebab itu, jelaslah bahwa filsafat
Islam bukan jiplakan atau hanya sekedar imitasi dari pemikiran Yunani, karena
filsafat Islam pertama-tama dan secara khususnya menggarap masalah-masalah yang
berasal dari dan mempunyai relevansi bagi umat Islam, hal ini tidak berarti
menyangkal hutang budi pemikiran muslim kepada bangsa Yunani, melainkan hanya
dimaksudkan untuk meluruskan persoalan saja.
Dari sumber yang berbeda dijelaskan
Munculnya filsafat Islam jika ditilik dari sejarahnya, maka akan ditemukan dua
faktor pendorong, baik yang dari Islam sendiri (internal) maupun yang dari luar
(eksternal).
Menurut Hadariansyah, faktor internal yang
mendorong munculnya filsafat Islam tak lain dan tak bukan adalah al-Qur’an,
yang di dalamnya terdapat ayat yang menyuruh manusia untuk berpikir. Adapun
faktor eksternal yang mendorong munculnya filsafat Islam adalah adanya penerjemahan
buku-buku bahasa Yunani ke bahasa Arab.
Sebagaimana yang sudah tertera dalam
sejarah, bahwa filsafat awalnya berasal dari Yunani, selain berkembang di
Yunani, orang-orang luar Yunanipun ikut mengembangkan sayapnya di ranah
filsafat, terutama orang-orang romawi.
Ketika di Romawi sudah mengalami
perkembangan, jelaslah bahwa Alexander the Great tak mau kalau perkembangannya
stagnan sampai situ saja, lalu ia berinisiatif memperlebar wilayah kekuasaannya
ke Afrika Utara dan Asia, ia tak hanya membawa segerombolan tentara, tetapi mengikut
sertakan para ilmuan.
Setelah kemenangan dalam genggamannya,
kemudian Alexander mencoba mengkombinasikan antara kebudayaan Yunani dengan
kebudayaan negeri-negeri yang baru di kuasainya. Terbukti dengan didirikannya
pusat-pusat kebudayaan dengan mewujudkan kebudayaan Yunani sebagai intinya.
Untuk bagian Barat didirikan pusat
kebudayaan yang tepatnya di Athena dan Roma, sedangkan untuk bagian Timur
didirikan pusat kebudayaan yang tepatnya di Alexandria (Iskandariyah) Mesir,
Antioch di Suriah, Jundisyabur di Mesopotamia, dan Bactra di Persia, bersamaan
dengan pristiwa tersebutlah filsafat mulai masuk ke Timur.
Ketika pemerintahan berada di bawah
kekuasaan khulafaur rasyidin mereka dapat menaklukan kota-kota penting seperti
Mesir, Suriah, Irak, dan Persia dengan sendirinya pun pusat-pusat kebudayaan
yang berada di sana dapat beralih tangan kepada mereka. Namun yang menjadi
permasalahan pada waktu itu umat Islam belum memberikan perhatian yang lebih
terhadap ilmu pengetahuan disertai ketidakbisaan mereka dalam berbahasa Yunani.
Pada masa selanjutnya tepatnya di masa
Daulah Abbasiyah berkuasa, terjadi perubahan yang sangat signifikan, yang
dulunya umat Islam kurang perhatiannya terhadap Ilmu Pengetahuan berevolusi
menjadi umat yang penuh antusias terhadap ilmu pengetahuan.
Harun ar-Rasyid merupakan khalifah di masa
Daulah Abbasiyah, beliaulah orang yang pada waktu itu menaruh perhatian yang
sangat besar terhadap pengetahuan dan filsafat Yunani, terbukti dengan
pernahnya beliau belajar filsafat di Persia dibawah asuhan Yahya ibn Khalid ibn
Barmak. Di masa pemerintahannya ia mengadakan kegiatan penerjemahan secara
resmi, memang dulu sempat ada juga kegiatan penerjemahan seperti ini namun
tidak dilakukan secara resmi. Buku-buku mengenai kedokteranlah yang didahulukan
didalam penerjemahan, kemudian baru ilmu pengetahuan-pengetahuan lainnya
termasuk filsafat. Awalnya kedalam bahasa Suryani kemudian ke dalam bahasa
Arab, namun pada akhirnya penerjemahan langsung ke bahasa Arab.
Kegiatan tersebut terus sampai mencapai
puncak kemajuannya di masa pemerintahan khalifah al-Makmun, beliau adalah
seorang intelektual yang sangat gandrung terhadap ilmu pengetahuan dan filsafat.
Kemudian mendirikan sebuah wadah penerjemahan sekaligus sebagai perpustakaan
yang membantu perkembangan ilmu pengetahuan dan filsafat. Untuk kepentingan tersebut al-Makmun
mengutus para prajuritnya ke pelbagai daerah untuk menemukan buku-buku
pengetahuan dan filsafat yang kemudian diterjemahkan kedalam bahasa Arab.
Dengan adanya kegiatan penerjemahan
tersebut tanpa disadari mulai menarik minat para intelektual dan pemikir Islam
untuk mempelajarinya. Sebagian dari mereka setelah mempelajari dan menyerap
pemikiran-pemikiran rasional filsafat Yunani tersebut, mulai menciptakan pikiran-pikiran
yang rasional juga, dan diwaktu itulah filsafat Islam mulai dikenal.
Dalam perspektif yang lain Asmoro Achmadi
mengkronologiskan munculnya filsafat Islam di awali setelah Kaisar Yustianus
menutup akademi Neoplatonisme di Athena, beberapa guru besar hijrah ke Kresipon
tahun 527, yang kemudian disambut oleh Kaisar Khusrwa tahun 529. Setelah itu di
tempat yang baru mengadakan kegiatan mengajarkan filsafat, mereka dalam waktu
20 tahun di samping mengajarkan filsafat, juga mempengaruhi lahirnya lembaga-lembaga
yang mengajarkan filsafat seperti di Alexandrian, Anthipia, Beirut.
Sifat khas orang-orang Arab saat itu yaitu
hidup mengembara (kafilah) bergeser pada proses urbanisasi. Kemudian diikuti
pudarnya dasar kehidupan asli yang terpendam dalam jiwa Arab, dulu orang-orang
Arab mengutamakan kejantanan dalam menghadapi hidup yang serba keras, karena
terpengaruh keadaan geografis (luasnya padang pasir), setelah proses urbanisasi
mereka terikat oleh birokrasi dan mengalami krisis identitas dalam bidang sosial
dan agama (dari pola mengembara menuju pola ketertiban).
Setelah mendapatkan kemapanan mereka
mengalami proses akulturasi penguasaan ilmu, maka mulailah mengadakan kontak
intelektual yang pada saat itu tersedi warisan pemikiran Yunani.
By : Unknown
Seni Sebagai Estetika dan Kreativitas
1
1.
Seni
Sebagai Estetika
Estetika berada di luar lingkup logika
ataupun etika. Definisi menurut para ahli sebagai langkah pendekatan memahaminya
antara lain sebagai berikut.
1)
Al Ghazali : Keindahan suatu benda terletak pada
perwujudan dari kesempurnaan karakteristik benda itu dan ditambah dengan adanya
jiwa atau roh di dalamnya.
2)
Alexander Baumgarten : Keindahan itu dipandang sebagai
kesatuan yang merupakan susunan yang teratur dari bagian-bagian yang mempunyai
hubungan erat satu dengan yang lain secara keseluruhan.
3)
Herbert Read : Keindahan adalah suatu kesatuan
hubungan formal dari pengamatan yang menimbulkan rasa senang.
4)
Immanuel kant : Keindahan ditinjau dari dua sisi,
yaitu:
Objektif : Keindahan
adalah keserasian suatu objek terhadap tujuan yang dikandungnya, sejauh objek
tersebut tidak ditinjau dari segi fungsi.
Subjektif : Keindahan
adalah sesuatu yang tanpa direnungkan dengan logika dan konsep dan tanpa
disangkutpautkan dengan kegunaan praktis dapat mendatangkan rasa senang pada si
penghayat.
5)
Zulser : Keindahan adalah sesuatu yang baik
dan dapat memupuk rasa moral.
6)
Thomas Aquines : Keindahan akan terbentuk jika
memenuhi 3 syarat, yaitu adanya :
a.
Integritas (kesatuan) atau kesempurnaan,
b.
Proporsi yang tepat dan harmonis.
c.
Klaritas (kejelasan).
Penganut teori objektif menempatkan rasa
estetis lebih utama sehingga memliki konsep, pola pikir, atau alasan logis
mengapa sesuatu itu dikatakan indah. Penganut teori subjektif meletakkan
keindahan secara pribadi dalam diri si penikmat karya seni sehinga tidak dapat
memberi alasan mengapa sesuatu itu dikatakan indah. Keindahan seni adalah keindahan
ekspresi, kreasi seniman. Jadi, pemandangan alam bukan keindahan seni.
2.
Seni Sebagai Kreativitas
Manusia memiliki kelebihan berupa akal pikiran, kalbu,
emosi, nafsu, dan kemampuan membuat sesuatu. Usaha menggunakan akal pikiran
untuk membuat sesuatu (kreasi) yang baru, baik, nyata atau abstrak disebut
kreativitas. Proses kreasi seni mempunyai ciri khusus antara lain seperti
dibawah ini.
1)
Unik
Unik
artinya sesuatu yang lain dari pada yang lain, yang belum pernah dibuat orang
sebelumnya, baik dalam hal ide, teknik, dan media. Alangkah baiknya jika karya
senimu adalah hasil kreasimu sendiri, bukan mencontoh dari yang sudah ada.
Karya lain dapat digunakan sebagai pemicu munculnya gagasan. Kembangkanlah
gagasan tersebut menjadi sesuatu yang unik dan baru. Dengan demikian,
kreativitasmu akan terasah.
2)
Individual (pribadi)
Artinya
memiliki kekhususan ciri dari seniman pembuatnya, yang berbeda dengan seniman
lain karena perbedaan pandangan, penghayatan, pengalaman, dan tehnik dalam
membuat karya seni. Bandingkanlah karyamu dengan karya temanmu. Objek yang
dipakai sebagai pemicu gagasan seni bisa jadi sama. Tapi karena pandangan,
penghayatan, pengalaman, dan teknik yang berbeda, hasilnya tentu akan berbeda.
3)
Ekspresif
Karya
seni merupakan hasil curahan bathin berupa penjabaran dari ide, renungan,
perasaan, atau pengalaman seniman. Seni yang tanpa curahan bathin seolah-olah
kering dan tak dapat menyentuh perasaan yang menikmatinya.
4)
Universal
Karya
seni dapat dinikmati oleh semua lapisan masyarakat, bangsa, dan generasi karena
adanya persamaan rasa estetik dan artistik.
5)
Survival (tahan lama)
Nilai seni dalam
suatu karya seni dapat dinikmati sepanjang masa karena nilai estetikanya
bersifat konsisten. Contohnya, karya seni peninggalan zaman kuno, masih bisa
kita nikmati sekarang.
By : Unknown
Sumber-Sumber Filsafat Pendidikan Islam
3
Dalam pengertian Filsafat Pendidikan Islam
yang disebut di atas disebutkan bahwa filsafat ini didasarkan pada al-Qur’an
dan hadis sebagai sumber primer, dan pendapat para ahli, khususnya para filosof
muslim , sebagai sumber sekunder. Maka dari sini kita tahu bahwa sumber-sumber
Filsafat Pendidikan Islam itu ada dua, yaitu
1. Sumber
Primer yaitu al-Qur’an dan al-Hadis,
2. Sumber
Sekunder yaitu pendapat para filosof muslim.
Al-Syaibany disebutkan oleh Jalaludin
dalam bukunya Filsafat Pendidikan Islam bahwa Dasar dan tujuan Falsafat
pendidikan Islam pada hakikatnya identik dengan dasar dan tujuan ajaran Islam
atau tepatnya, yaitu al-Qur’an dan hadis. Dari kedua sumber ini kemudian timbul
pemikiran-pemikiran mengenai masalah-masalah keislaman dalam berbagai aspek, termasuk
falsafat pendidikan. Dengan demikian hasil pemikiran para ulama’ seperti qiyas
syar’I dan ijma’ sebagai sumber sekunder (al-Syaibany, 1973), pada dasarnya
berasal dari kedua sumber pokok tadi (al-Qur’an dan hadis). Dalam paparan ini
sumber sekundernya adalah Hasil pemikiran ulama’ seperti qiyas syar’I dan Ijma’
bukan lagi pemikiran filosof muslim..
Al-Qur’an menganut faham integralistik
dalam bidang ilmu pengetahuan. Seluruh ilmu yang bersumber dari alam raya
(ilmu-ilmu fisika, sains), tingkah laku manusia(ilmu-ilmu social), wahyu atau
ilham (ilmu agama, tasawuf, filsafat) adalah bersumber dari Alloh. Hal lain
yang juga amat mendasar adalah bahwa al-Qur’an amat menekankan pentingnya
hubungan yang harmonis antara ilmu dan iman. Ilmu tanpa iman akan tersesat, dan
iman tanpa ilmu tidak akan berdaya
Al-Qur’an menaruh perhatian yang besar
terhadap masalah pendidikan dan pengajaran. Seperti pemuatan istilah-istilah
yang digunakan oleh pendidikan seperti kata tarbiyah, ta’lim, iqra;, hingga ada
kesimpulan bahwa al-Qur’an adalah kitab pendidikan.
Adapun Hadis atau al-Sunnah menjadi sumber
kedua dalam filsafat pendidikan Islam karena Nabi Muhammad SAW telah memberikan perhatian amat besar
terhadap pendidikan, dan mencaangkan pendidikan sepanjang hidup (long life education), sampai ia
mewajibkan mencari ilmu. Dan Ia diutus ke bumi ini untuk menjadi pengajar,
menyempurnakan aklah mulia dan mengajak menyembah Allah semata.
Adapun sumber sekunder itu belum
dioptimalkan. Banyak pendapat ulama’ yang tertulis dalam kitab klasik. Sumber
ini untuk pengembangan filsafat pendidikan Islam. Namun demikian secara
subtansial pendapat para filosof muslim pun masih dapat dipersoalkan, yaitu jika
sesuatu dijadikan sebagai sumber, maka sumber itu harus permanen, constant, dan
tidak diperselisihkan keberadaannya. Sedang filsafat dari manapun ia berasal
atau disampaikan tetap memiliki sifat-sifat kekurangan dan kelemahan yang
menyebabkan kedudukannya sebagai sumber dapat dipermasalahkan.
By : Unknown
Pengertian Filsafat Pancasila
2
Filsafat berasal dari Bahasa yunani yang berarti philosophia yang
merupakan gabungan dari kata philos yang berarti mencintai dan Sophia yang
berarti kebijakan. Jadi, filsafat dapat diartikan sebagai kecintaan kepada kebijaksanan
atau mencintai sebuah kebenaran. Berbicara mengenai makna filsafat Pancasila
maka berhubungan dengan pengungkapan tentang kebijaksanaan atau
kebenaran-kebenaran yang ada dalam Pancasila sebagai dasar negara Indonesia. Sila-sila
dalam Pancasila merupakan sebuah sistem dan cara bernegara bagi warga negara
Indonesia. Kelima sila ini berisi tentnag etika manusia dalam bersosialisasi
secara sepantasnya kepada manusia lainnya, dirinya sendiri dan tentunya tuhan
yang maha esa.
Definisi filsafat Pancasila telah mengalami banyak perubahan dan
penyesuaian berdasarkan kekuasaan rezim tertentu selama masa kemerdekaan
Indonesia. Adapun inti dari filsafat Pancasila pada tahun 1945 adalah sebuah
konsep yang diadaptasi dari filsafat negara barat.filsafat Pancasila adalah
gabungan dari beberapa konsep – konsep seperti rasionalisme, sosiodemokrasi,
demokrasi humanisme, dan nasionalisme. Pada tahun 1955, filsafat Pancasila
pernah dikembangkan oleh soeharto. Sedangkan pada masa pemerintahan soeharto,
Pancasila mengalami perubahan. Segala pengaruh negara barat dalam konsep
Pancasila ditiadakan
Menurut Abdulgani pancasila merupakan filsafat Negara yang lahir sebagai
collective ideologie (cita-cita
bersama ) dari seluruh bangsa Indonesia.
Filsafat pancasila oleh Soekarno dikembangkan lagi sejak tahun 1955
hingga berakhirnya kekuasaannya tahun 1965. Pada saat itu Soekarno selalu
manyatakan bahwa pancasila merupakan filsafat asli Indonesia yang diambil dari
budaya dan tradisi Indonesia dan akulturasi budaya india ( hindu-budha ), Barat
( Kristen ) dan Arab ( Islam ). Filsafat pancasila oleh Soekarno dikembangkan
lagi sejak tahun 1955 hingga berakhirnya kekuasaannya tahun 1965. Pada saat itu
Soekarno selalu manyatakan bahwa pancasila merupakan filsafat asli Indonesia
yang diambil dari budaya dan tradisi Indonesia dan akulturasi budaya india (
hindu-budha ), Barat ( Kristen ) dan Arab ( Islam ).
Filsafat pancasila oleh Soekarno dikembangkan lagi sejak tahun 1955
hingga berakhirnya kekuasaannya tahun 1965. Pada saat itu Soekarno selalu
manyatakan bahwa pancasila merupakan filsafat asli Indonesia yang diambil dari
budaya dan tradisi Indonesia dan akulturasi budaya india ( hindu-budha ), Barat
( Kristen ) dan Arab ( Islam ).
Dari penjabaran diatas dapat diambil kesimpulan bahwa pengertian
filsafat Pancasila adalah kumpulan nilai-nilai dan norma-norma yang dibentuk
berdasarkan pemikiran yang dalam dan proses yang panjang untuk dijadikan dasar
dan pedoman Indonesia dalam bernegara secara sebenar-benarnya. Konsep filsafta
Pancasila dibuat berdasarkan konsep kemanusiaan dalam bersosialisasi dan
beretika sehingga terbentuk negara yang berketuhanan, adil, beradab,
kebijaksanaan dan bersatu
By : Unknown
Kedudukan Filsafat Pendidikan Islam
2
Kedudukan Filsafat Pendidikan Islam dalam
Islam dan Pendidikan Islam adalah sebagai alat atau sarana untuk memahami, dan
untuk menyelasaikan permasalahan pendidikan Islam dengan mendasarkan atas
keterkaitan hubungan antara teori dan praktek pendidikan. Karena pendidikan
akan mampu berkembang bilamana benar-benar terlibat dalam dinamika kehidupan
masyarakat.
Antara pendidikan dan masyarakat selalu
terjadi interaksi (saling mempengaruhi) atau saling mengembangkan, sehingga
satu sama lain dapat mendorong perkembangan untuk mengokohkan posisi dan fungsi
serta idealistas kehidupannya. Ia memerlukan landasan ideal dan rasional yang
memberikan pandangan mendasar, menyeluruh dan sistematis tentang hakekat yang
ada di balik masalah pendidikan yang dihadapi.
Dengan demikian filsafat pendidikan
menyumbangkan analisanya kepada ilmu pendidikan Islam tentang hakekat masalah
yang nyata dan rasional yang mengandung nilai-nilai dasar yang dijadikan
landasan atau petunjuk dalam proses pendidikan.
Dalam masyarakat yang sedang mengalami
perubahan seperti abad 21 ini, kegunaan fungsional dari Filsafat Pendidikan
Islam adalah semakin penting, karena filsafat menjadi landasan strategi dan
kompas jalannya pendidikan Islam. Kemungkinan-kemungkinan yang menyimpang dari
tujuan pendidikan Islam akan dapat diperkecil dan sebaliknya kemampuan dan
kedayagunaan pendidikan Islam dapat lebih dimantapkan dan diperbesar karena
gangguan, hambatan serta rintangan yang bersifat Mental atau spiritual serta
teknis operasional akan dapat diatasi atau disingkirkan dengan lebih mudah.
By : Unknown
Pengertian Filsafat Pendidikan Islam
1
Filsafat pendidikan Islam terbentuk dari
perkataan filsafat, Pendidikan dan Islam. Penambahan kata Islam di akhir itu
untuk membedakan filsafat pendidikan Islam dari pengertian filsafat pendidikan
secara umum. Dengan demikian filsafat pendidikanIislam mempunyai pengertian
secara khusus yang ada kaitannya dengan ajaran Islam.
Lebih jauh, Omar Muhammad al-Toumy
al-Syaibany, melihat falsafah pendidikan adalah pelaksanaan pandangan falsafah
dan kaidah falsafah dalam pengalaman manusia yang disebut pendidikan Secara
rinci dikemukakan bahwa falsafah pendidikan merupakan usaha untuk mencari
konsep-konsep di antara gejala yang bermacam-macam meliputi :
1. proses
pendidikan sebagai rancangan yang terpadu dan menyeluruh;
2. menjelaskan
berbagai makna yang mendasar tentang segala istilah pendidikan;
3. pokok-pokok
yang menjadi dasar dari konsep pendidikan dalam kaitannya dengan bidang kehidupan
manusia.
Dalam masyarakat islam pendidikan islam
itu merupakan ajaran-ajaran berdasar pada wahyu, yang juga menjadi dasar dari
pemikiran filsafat pendidikan Islam. Hal ini menunjukkan falsafah pendidikan
Islam yang berisi teori umum mengenai pendidikan Islam, dibina atas dasar
konsep ajaran Islam yang termuat dalam al-Qur’an dan hadis. Hal ini sejalan
dengan berfikir falsafi, yakni mendasar, menyeluruh tentang kebenaran yang
ditawarkan yaitu kebenarah tuhan yang mutlak.
Selanjutnya
banyak pakar yang mendefinisikan Filsafat Pendidikan Islam,
Omar Mohamad al-Toumy al-Syaibany,
menurutnya bahwa filsafat pendidikan Islam tidak lain ialah pelaksanaan
pandangan filsafat dan kaidah filsafat dalam bidang pendidikan yang didasarkan
pada ajaran Islam. Ia
juga menyebutkan penjelasannya dalam bukunya Falsafah Pendidikan Islam yang
mengarah kepada pengertian Filsafat Pendidikan Islam seperti dalam kutipan
berikut : “Jika kita telah membicarakan tentang kepentingan pembinaan falsafah
pendidikan secara umum, kita tidak menentukan jenis falsafah yang harus
menonjol pada falsafah itu. Judul atau bab yang kita bincangkan tentang
sifat-sifat falsafah dan apa yang disebut bagi falsafah ini tentang
sumber-sumber, unsure-unsur, dan syarat-syarat dari dan apa yang akan kita
sebut tentang prinsip-prinsip, kepercayaan-kepercayaan, andaian-andaian dan
premis yang menjadi asas falsafah ini, yaitu falsafah pendidikan yang berasal
dari prinsip-prinsip dan ruh Islam. Itulah Falsafah Islam untuk pendidikan,
atau disebut filsafat pendidikan Islam”.
Abudin Nata menyimpulkan bahwa filsafat
pendidikan Islam itu merupakan suatu kajian secara filosofis mengenai berbagai
masalah yang terdapat dalam kegiatan pendidikan yang didasarkan pada al-Qur’an
dan hadis sebagai sumber primer, dan pendapat para ahli, khususnya para filosof
muslim , sebagai sumber sekunder. Selain itu filsafat pendidikan Islam dapat
dikatakan suatu upaya menggunakan jasa filosofis, yakni berfikir secara
mendalam, sistematik, radikal, dan universal tentang masalah-masalah
pendidikan, seperti masalah manusia (anak didik), guru, kurikulum, metode,
lingkungan dengan menggunakan al-Qur’an dan al-Hadis sebagai dasar acuannya.
Dengan demikian, filsafat pendidikan Islam secara singkat dapat dikatakan
adalah filsafat pendidikan yang berdasarkan ajaran Islam atau filsafat
pendidikan yang dijiwai oleh ajaran Islam, jadi ia bukan filsafat yang bercorak
liberal, bebas tanpa batas etika sebagaimana dijumpai dalam pemikiran filsafat
pada umumnya.
Jalaludin dalam bukunya Filsafat
Pendidikan Islam, menyebutkan bahwa Filsafat Pendidikan Islam itu merupakan
hasil pemikiran para filosof berdasarkan sumber yang berasal dari wahyu Ilahi,
sedangkan falsafah pendidikan lainnya berasal dari hasil renungan (pemikiran)
yang didasarkan atas kemampuan rasio. Hasil pemikiran yang bersumber dari wahyu
bagaimanapun memiliki kebenaran yang mutlak, tidak tergantung pada kondisi
ruang dan waktu. Seba liknya hasil pemikiran berdasarkan rasio, sangat
tergantung kepada kondisi ruang dan waktu.
Kajian Falsafat pendidikan Islam beranjak
dari kajian falsafat pendidikan yang termuat dalam al-Qur’an dan hadis yang
telah diterapkan oleh nabi Muhammad SAW selama hanya beliau, baik selama periode Makkah maupun
selama Periode Madinah. Falsafat Pendidikan Islam yang lahir bersamaan dengan
turunnya wahyu pertama itu telah meletakkan dasar kajian kokoh, mendasar,
menyeluruh serta terarah ke suatu tujuan yang jelas, yaitu sesuai dengan tujuan
ajaran islam itu sendiri.
M. Arifin dalam pendahuluan buku Filsafat
Pendidikan Islam menyebutkan bahwa Filsafat Pendidikan Islam berarti memasuki
arena pemikiran yang mendasar, sistematis, logis dan menyeluruh (universal)
tentang pendidikan, yang tidak hanya dilatarbelakangi oleh ilmu pengetahuan
Agama Islam saja, melainkan menuntut kepada kita untuk mempelajari ilmu-ilmu
lain yang relevan. Selanjutnya
M. Arifin menyebutkan tentang sebuah pemikiran bercorakkan khas Islam, Filsafat
Pendidikan Islam pada hakikatnya adalah konsep berfikir tentang kependidikan
yang bersumberkan atau berlandaskan ajaran agama Islam tentang hakekat
kemampuan manusia untuk dapat dibina dan dikembangkan serta dibimbing menjadi
manusia muslim yang seluruh pribadinya dijiwai oleh ajaran Islam, serta mengapa
manusia harus dibina menjadi hamba Allah yang berkepribadian demikian.
Dalam bukunya Filsafat Pendidikan Islam,
Ia menyebutkan bahwa suatu falsafah yang hanya membicarakan masalah yang
menyangkut bagaimana system pendidikan agama islam berlangsung dan
dilangsungkan di dalam Negara yang berdasarkan Islam di Negara di mana Islam
diajarkan atau dididikkan di dalam lembaga-lembaga pendidikan yang ada dan
berkembang di Negara tersebut. Oleh karena bila hanya demikian sudah bisa
dikatakan sebagai filsafat pendidikan Islam.
Falsafah Pendidikan Islam yang kita
kehendaki adalah suatu pemikiran yang serba mendalam, mendasar, sistematis,
terpadu dan logis, menyeluruh serta universal yang tertuang atau tersusun ke
dalam suatu bentuk pemikiran atau konsepsi sebagai suatu system.
Filsafat Pendidikan Islam adalah falsafah
tentang pendidikan yang tidak dibatasi oleh lingkungan kelembagaan Islam saja
atau oleh ilmu pengetahuan dan pengalaman keislaman semata-mata, melainkan
menjangkau segala ilmu dan pengalaman yang luas seluas aspirasi masyarakat
muslim, maka pandangan dasar yang dijadikan titik tolak studinya adalah ilmu
pengetahuan teoritis dan praktis dalam segala bidang keilmuan yang berkaitan
dengan masalah kependidikan yang ada dan yang aka nada dalam masyarakat yang
berkembang terus tanpa mengalami kemandegan.
Dengan demikian, yang lebih tepat dalam
melakukan studi tentang Filsafat Pendidikan Islam ini adalah bila keduanya dapat
terpenuhi yakni segi ilmiah dapat dibenarkan dan dari segi diniyah dapat
dipertanggungjawabkan.
Dari penjelasan dan paparan pengertian
Filsafat pendidikan Islam yang telah disebutkan oleh para pakar di atas, dapat
disimpilkan bahwa Filsafat Pendidikan Islam adalah suatu kajian secara
filosofis yakni berfikir secara mendalam, sistematik, radikal, dan universal
tentang masalah-masalah pendidikan, seperti masalah manusia (anak didik), guru,
kurikulum, metode, lingkungan , hakekat kemampuan manusia untuk dapat dibina
dan dikembangkan serta dibimbing menjadi manusia muslim yang seluruh pribadinya
dijiwai oleh ajaran Islam, serta mengapa manusia harus dibina menjadi hamba
Allah yang berkepribadian demikian yang didasarkan pada al-Qur’an dan hadis
sebagai sumber primer, dan pendapat para ahli, khususnya para filosof muslim ,
sebagai sumber sekunder.
By : Unknown